Selasa, 01 Mei 2012

Inspection Manual Katup Pengaman

Inspection Manual Katup Pengaman 


Equipment Inspection Manual ini mencakup guideline dan aturan-aturan mengenai prosedur tentang inspeksi, maintenance, perbaikan dan pengetesan dari katup pengaman di lingkungan Pertamina.
Katup Pengaman (pressure-relieving devices) yakni pembuang tekanan otomatis yang dipergunakan untuk melindungi peratatan bertekanan.
Alat pembuang tekanan otomatis yang dimaksud disini adalah meliputi ;
a.  Katup pengaman berpegas  (spring loaded pressure relief valve/safety, safety relief dan relief valves)
b. Katup pengaman dengan perlengkapan pilot (pilot-operated valves).
c. Rupture disk.
Sedangkan alat-alat seperti explosion door, fusible plugs dan alat-alat yang dikontrol dengan sumber tenaga dari luar untuk keperluan operasi (misalnya control valve), tidak termasuk dalam scope dari manual ini.
Manual ini dimaksudkan untuk dipergunakan sebagai guide untuk pemeriksaan dan pemeliharaan katup pengaman yang dipergunakan di Plant, karena itu Inspeksi dan testing procedure dalam tahap manufacturing yang harus sudah termasuk dalam scope Code atau spesifikasi pembelian tidak akan dimasukan dalam scope  manual ini.
Keterangan-keterangan yang ada dalam manual ini tidak dimaksudkan untuk mengabaikan/ membelakangi ketentuan-ketentuan yang berwenang dalam mengatur dan mengawasi  penggunaan katup pengaman.
 
2.  CODE & STANDARD
Prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang berlaku untuk dipakai serta sebagai referensi pendukung Inspection Manual ini adalah :
1.    U.U. No. I tahun 1970 tentang Keselaroatan Kerja.
2.    U.U. Uap(S-toom Ordonantie tahun 1930)
3.    Peraturan Uap (Stoom Verordering tahun 1930)
4.    Peraturan Pemerintah No. 11I tahun –1979 (LNG No. 18 TLN No. 3135)
5.    Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. 06P/0746/M.PE/1991 dan Surat Dirjen Migas No. 226/382/DJM/1995 tanggal 21 Maret 1995.
6.    ANSI - Standard NB-23  : National Board Inspection Code
7.    ANSI B95.1 : Termiinology for Pressure Relief Devices
8.    ANSI B147.1 : Commercial Seat Tighness of Safety Relief Valves with metal to-metal seats
9.    ASME Boiler and Pressure Vessel Code, Section I Power Boilers
10.  ASME Boiler and Pressure Vessel Code, Section VIII Devision I : Pressure Vessels
11. API-RP 520 ; Recommended Practice for the Design and Installation of Pressure Relieving Systems in Refineries ;
Part I    : Design
Part II   : Installation
12.  API-RP 521 ; Guide for Pressure Relief dan Depressuring System
13.  API-STD 526 : Flanged Steel Safety Relief Valves
14.  API-STD 527 : Seat Thightness of Pressure Relieving Devices (Sept. 1992).
15.  API-STD 2000: Venting Atmospheric and Low Pressure Storage
16.  API-RP 576, Inspection of Pressure Relieving Devices (Second Edition, December 2000).
17.  API-Bulletin 2521 : Use of Pressure vacuum vent valves for Atmospheric Pressure Tanks to reduce Evaporation Loss
3.  INSPECTION PROCEDURES
3.1. Umum
Berikut akan diberikan keterangan umum tentang uraian pemakaian dan batasan-batasan penggunaan katup pengaman.
3.1.1.   Safety Valve
a. Uraian
Yang dimaksud disini adalah katup otomatis dengan pegas yang bekerja atas tekanan stalls pada sisi upstream dengan membuka penuh (pop action).
Katup ini biasanya diperlengkapi dengan pegas yang terbuka (diluar casing dari valve) dan biasanya bagian down stream tidak benar-benar kedap (not pressure tight) dan biasanya dilengkapi dengan lifting/try lever.
b. Pemakaian
Safety Valve digunakan di Steam Boiler Drum dan Superheater dan steam system lainnya.
c. Pembatasan,
Safety valve -tidak boleh digunakan pada ;
1.  Daerah yang korosif.
2.  System yang mempunyai back pressure
3.  Dimana saluran buangan harus diteruskan ketempat yang jauh.
4.  Untuk liquid service
5.  Sebagai pressure control/by pass
3.1.2.   Relief Valve
a.  Uraian
Berupa katup otomatis yang bekerja atas tekanan statis pada bagian upstream, tetapi bukaan katup ini sebanding dengan kenaikan tekanan (bukan pop action).  Down stream dari   katup ini adalah kedap tekanan (pressure tight) serta tidak dilengkapi dengan lifting lever.
b.  Pemakaian
Digunakan kebanyakan untuk media cair.
c.  Pembatasan
Relief valve tidak dipakai pada :
1.  Steam, air, gas atau vapor service
2.  Pada back pressure yang bervariasi
3.  Sebagai pressure-control atau by pass
3.1.3.   Safety Relief Valve
a.  Uraian
Adalah katup otomatis yang bekerja atas tekanan statis dari upstream dengan karakteristik terbuka penuh (pop action) untuk gas atau uap (vapor) dan dapat berfungsi sebagai safety atau relief valves. Jenis katup ini ada 2 macam : conventional dan balanced type.
b.  Pemakaian
Alat ini dipakai untuk membuang zat yang mudah terbakar atau beracun dan mungkin harus disalurkan ketempat yang jauh (untuk keperluan pengamanan) atau kesuatu system tertutup (close discharge system), yakni :
1.  General refinery service  untuk gas, vapor, steam,udara (air) atau liquid.
2.  Service yang  korosif
3.  Bilamana discharge harus disalurkan ke tempat yang jauh.
4. Bilamana penyaluran fluid dari valve yang terbuka tidak diinginkan
c.  Pembatasan
Safety relief valve tidak dipergunakan untuk:
1.  Steam Boiler drum atau superheater
2. Sebagai pressure control/by pass
3.1.4.   Conventional Safety Relief Valve :
a.  Uraian
Conventional safety Relief valve adalah safety relief valve yang backpressure, dari discharge-nya (down stream side) akan berpengaruh langsung terhadap action dari katup tersebut. Backpressure yang bervariasi akan mempengaruhi kerja dari katup ini. Conventional safety relief valve biasanya discharge-nya kedap (pressure tight on the down strem side) dan dilengkapi dengan lifting lever, agar dapat dibuka secara manual.
b.  Pemakaian
Dipakai seperti tercantum pada 3.1.3b dimana superimposed backpressure-nya constant dan built up back pressure tidak akan melebihi 10 persen dari set pressurenya.
c.  Pembatasan
Conventional Safety Relief Valve tidak dipakai untuk :
1.  Steam-Boiler drum atau superheater
2.  Back pressure yang variabel.
3.  Sebagai pressure-control/bypass.
3.1.5.   Balanced Safety Relief Valve
a.  Uraian
Dimana dilengkapi dengan balance mechanis berupa bellow atau piston agar supaya dapat mengurangi kepekaan pengaruh backpressure terhadap kerja katup ini.
b.  Pemakaian
Dipergunakan untuk jenis service tercantum dalam 3.1.3b dimana backpressurenya constant atau variabel, untuk fluida dengan viscositas yang tingqi, discharge pompa atau fluida yang corrosive dimana dapat terhindar contact antara liquid dengan bagian valve sehingga dapat mengurangi terjadinya sticking.
c.  Pembatasan
Balance safety relief valve tidak dipakai untuk :
1.  Steam-Boiler drum atau superheater.
2.  Sebagai pressure control/bypass.
Harus diingat bahwa bilamana bellow dari katup ini bocor, fluida harus dibuang melalui vent dibonnetnya, karenanya pembuangan venting ini juga perlu diperhatikan.
3.1.6.   Pilot Operated Safety Relief Valve
a.  Uraian
Pilot operated safety relief valve terdiri dari dua unit, dimana katupnya sendiri digerakan oleh pilot. Pilot biasanya berupa spring loaded valve yang mengukur tekanan dan menyebabkan katup utamanya membuka atau menutup secara penuh. Juga katup utama harus dapat terbuka pada tekanan yang melebihi set pressurenya walaupun terjadi kerusakan pada pilotnya.
b.  Pemakaian
1.  Dimana diperlukan relief area yang luas pada set pressure yang tinggi.
2.  Dimana beda antara normal operating pressure dan setting pressure sangat berdekatan .
3.  Pada tangki-tangki besar tertekanan rendah untuk mencegah icing dan sticking (Ref. API 620).
4.  Dimana diperlukan blowdown yang kecil
5.  Dimana backpressure sangat tinggi dan diperlukan balanced design. Pilot operated valve dengan pilot divent ke atmosfir adalah full balance.
 
c.  Pembatasan
Tidak dapat digunakan pada:
1.  Pada process service dengan suhu tinggi serta fluida yang kotor.
2.  Service dengan viscous liquid yang dapat menyebabkan kebuntuan, karena pilot operated valve menggunakan orifice yang relatif kecil.
3.  Vapor yang berpolimerisasi.
4.  Suhu yang tinggi yang melewati batas ketahanan dari diaphragma atau seal dari valve atau liquid yang dapat merusak parts tersebut sehingga pilot dapat berfungsi dengan baik.
3.1.7.   Pressure & Vacuum Vent
a.  Uraian
Pressure & Vacuum Vent adalah pressure atau vacuum relieving devices yang bekerja atas daya tekan atau vacuum dalam tangki yang dilindungi. Ada 2 jenis: yaitu weight loaded dan pilot operated vents.
b.  Pemakaian
Dipakai sebagai alat pengaman terhadap differential pressure antara tangki dan atmosfir diluar tangki yang dapat menyebabkan kerusakan tangki bila mana tidak dilindungi.
c.  Pembatasan
Alat ini hanya didesign untuk melindungi atmospheric storage tank.
3.1.8.   Rupture Disk
a.  Uraian
Rupture disk adalah semacam diaphragma yang tipis yang dijepit diantara dua
flange yang khusus didesign untuk mudah pecah (rupture) pada tekanan yang sudah ditentukan, untuk melindungi aparat atau system. Rupture disk dijepit diantara dua flange.
Material standard untuk disk tersebut adalah aluminium, monel, inconel, stain-
less steel type 316 atau nickel, yakni material yang tahan terhadap korosi.
Jenis disk yang digunakan adalah :
1.  Solid metal disk
2.  Composite type: terdiri dari slotted top section dan seal membrane terbuat dari metal atau plastic.
3.  Reverse Buckling Disk : dimana membrane dipasang terbalik serta dilengkapi pisau (blade) pada outlet section.
4.  Scored disc :  seperti riverse buck-ling disc tetapi metal dari disk sendiri sudah dibuat guratan untuk memperlemah sehingga blade tidak diperlukan lagi.
b.  Pemakaian
Rupture disk digunakan pada kondisikan-kondisi sebagai berikut:
1.  Sebagai proteksi terhadap katup pengaman di upstream side dari fluida yang korosive.
2.  Proteksi terhadap fluida yang kental atau yang dapat berpolimerisasi dan mengakibatkan kebuntuan.
3.  Sebagai pengganti pressure relief valve.
4.  Sebagai tambahan terhadap pressure relief devices bilamana beda antara tekanan kerja dan tekanan rupture besar.
c.  Pembatasan
Solid metal disk (flat atau bulg) dimana tekanan bekerja pada concave side, operating pressure yan dilindungi adalah antara 65-85% dari bursting pressure, sedang untuk reverse buckling type dapat dipakai untuk tekanan kerja sampai 90% dari bursting pressure.
Bilamana rupture disk dipasang pada upstream atau down stream dari pressure
relief valve harus diperhatikan kelengkapan-kelengkapan berupa pressure indi-
cator, try cock, drain dan vent agar dapat segera diketahui adanya kebocoran
atau pecahnya disk tersebut.
3.2. Penyebab Kerusakan dan Frekwensi  Inspeksi
3.2.1.   Korosi
a.  Korosi adalah salah satu penyebab kerusakkan bagian-bagian dari katup pengaman, yang menimbulkan pitting, patah/rusaknya parts, terjadinya deposit atau endapan yang akan menggangu bagian-bagian yang bergerak atau secara keseluruhan merusak material dari katup pengaman.
b.  Kerusakan pada seating (damaged seating surfaces) Seating dari pressure-relief valve adalah bagian yang penting dan harus dipertahankan presisinya sehingga dapat dijamin tightnessnya.
Adanya cacat pada seating akan menyebabkan terganggunya operasi dari katup pengaman.
Sebab-sebab kerusakan seating antara lain
1.  Korosi
2.  Benda asing  (foreign material) seperti mill scale, kotoran las (welding spater atau slag), corrosion deposit, cokes, atau kotoran lainnya yang masuk sewaktu katup membuka.
3.  Piping yang terlalu panjang atau penyumbatan piping yang menyebabkan katup pengaman chattering.
4.  Handling yang kasar  (careless handling).
5.  Kebocoran melalui seating yang menimbulkan erosi akibat misallignment dari part atau tegangan dari luar (piping strains akibat support yang kurang baik).
Juga kebocoran karena kurang sempurnanya allignment dari spindle, kurang baiknya fitting dari spring dengan washernya dan sejenisnya.
c. Spring yang patah
Yang biasanya disebabkan oleh korosi baik general corrosion atau stress cor-
rosion.
d.  Plugging dan Sticking
Dalam refinery services ada kemungkinan bagian-bagian katup pengaman atau bahkan pipingnya tersumbat oleh coke atau pembekuan product lainnya, atau terjadi fouling yang akan  dapat mempengaruhi operasi dari katup tersebut.
Sebab-sebab lain tidak berfungsinya katup pengaman adalah kemungkinan sticking disc atau disc holder dengan disc guide, atau juga macetnya piston pada drumnya(untuk pilot operated  valve)  yang disebabkan oleh korosi atau benda-benda asing.
e.  Rough Handling
Handling yang kasar terhadap katup penaman pada waktu transport (shipment),
maintenance dan pemasangan dapat mengakibatkan katup pengaman kehilangan tightnessny a  dan bocor pada waktu dipergunakan.
3.2.2.   Frekwensi Inspeksi
Untuk menjamin bahwa katup pengarman dapat berfungsi baik, setiap katup pengaman harus  di-inspeksi secara berkala dan interval antara inspeksi harus ditentukan untuk setiap katup pengaman, yang penentuannya harus didasarkan atas pengalaman dari servicenya dan tidak melebihi 3 tahun. Adapun pertimbangan-pertimbangan yang dapat digunakan untuk penentuan interval tersebut adalah ;
a.  Normal Basis
Interval antara inspeksi harus tidak melebihi kebutuhan untuk menjamin alat dapat bekerja baik.  Interval  biasanya ditentukan oleh pengalaman operasional untuk kondisi service yang di handle, misalnya untuk service yang corrosive atau fouling service intervalnya harus lebih pendek dibandingkan dengan clean service, Begitu juga untuk spring loaded valve yang dipengaruhi oleh vibrasi, load yang ber-ubah-ubah (pulsating load), beda tekanan antara tekanan-operasi dan tekanan setting yang  dekat atau kondisi kondisi yang menyebabkan katup pengaman dapat bocor atau tidak berfungsi baik, harus lebih sering diinspeksi dibandingkan dengan katup-katup pengaman yang kondisi operasinya tidak demikian.
Bilamana pengalaman menunjukan bahwa katup pengaman dalam jangka waktu panjang selalu mempunjai set pressure yang tidak berubah, maka interval inspeksinya dapat diperpanjang.
Bila kondisi terhadap korosi, fouling dan lainnya belum dapat ditentukan serta belum dapat diterka (misalnya untuk proses baru), initial inspection harus dilakukan secepatnya dimana practical untuk dapat segera menentukan interval inspeksi yang tepat dan aman.
b. Manufacturer Basis
Manufacturer sering dapat dimintai petunjuk apabila ada komponen-komponen yang memerlukan konsiderasi tertentu, misalnya mungkin diperlukannya inspeksi dan penggantian bagian-bagian tertentu yang berbeda dengan katup pengaman yang biasa (non metallic diaphragmapada pilot operated valve, O-ring, dan sebagainya).
c. Lain-lain
Pada keadaan tertentu frequensi inspeksi dan testing dapat ditentukan oleh instansi yang berwenang.
3.2.3.   Waktu dilaksanakannya inspeksi
Pemeriksaan dan testing katup pengaman harus dilakukan pada waktunya sesuai dengan schedule yang sudah ditentukan.
Sedapat mungkin diusahakan agar pelaksanaan testing dapat diatur seflexible mungkin agar sesedikit mungkin pengaruhnya terhadap operasionil pabrik.
Berikut ini beberapa timing yang dianjurkan dilaksanakannya inspeksi ;
a.  Inspeksi pada instalasi baru
Semua katup pengaman (pressure relief valves dan automatic pressure relieving devices lainnya), yang tergantung dari pengaturan pegasnya (depend on a spring adjustment) harus diinspeksi dan ditest sebelum dipasang pada process equipment. Inspeksi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada kerusakan atau perubahan dari pengetesan pabrik (factory adjustment) karena transportasi, konfirmasi terhadap set pressure serta untuk keperluan record.
Pressure dan vacuum vents pada atmospheric storage tanks juga harus diperiksa setelah dipasang sebelum tangki mulai beroperasi atau sebelum tangki ditest hydrostatis.
b.  Inspeksi pada saat plant shutdown (Planned Shutdown)
Pemeriksaan pada saat planned shutdown adalah saat yang ideal. Semua katup pengaman yang tidak dilengkapi  dengan block valve harus diinspeksi pada saat planned shutdown tersebut. Untuk katup-katup pengaman yang essensial walaupun telah dilengkapi dengan block valve adakalanya perlu dilaksanakan inspeksi dan testing pada saat planned shut down agar process interuption dapat dijaga seminimal mungkin.
c.  Inspeksi setelah shutdown yang panjang
Katup pengaman yang dibiarkan pada unit process dalam periode shutdown yang lama (misalnya pada unit yang dikonservasi atau di "Mothballing", bilamana akan digunakan/dioperasikan kerobali harus diinspeksi dan di test ulang.
d.  Visual Onstream Inspection
Visual onstream inspection sebagai survey perlu diconsider untuk tindakan kontrol.
Dalam inspeksi ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1.  Katup pengaman yang terpasang adalah benar.
2.  Tag identifikasinya menunjukkan set pressure yang benar untuk aparat yang dilindungi.
3.  Tidak terdapat gap, blind, stop valve yang tertutup atau, piping obstruction.
4.  Segel pelindung terhadap spring setting tidak terputus (masih dalam keadaan baik).
5.  Katup pengaman tidak bocor, pada balanced bellow type kebocoran bellows harus dicheck dari bellow vents.
6.  Bellows vents harus terarah ketempat yang aman.
7.  Block valve pada upstream dan down stream harus dalam keadaan terbuka dan diseal/dikunci (car seal atau locked).
Interval dari visual onstream inspection ini dapat diatur berdasarkan pengala-man. Tetapi seyogyanya hal tersebut dapat diback-up dengan onstream inspection yang dicover dengan standard procedure yang diassign ke operating personnel sehubungan dengan prosedure penggunaan block valve/stop valve yang juga memerlukan checking berkala agar dipastikan bahwa stop valve selalu dalam posisi yang benar (car seal /locked open position).
3.3. Prosedur Inspeksi Katup Pengaman
3.3.1.   Persiapan-persiapan
a.  Safety Precaution
General safety precaution harus diperhatikan sebelum mengoperasikan katup pengaman.
Hal ini sangat penting, terutama bilamana unit sedang beroperasi.
Bilamana katup pengaman dilepas/dibuka ke atmosfir, harus dijaga agar gas atau fluida yang berbahaya tidak menyebar karena bukaan tersebut. Pada kasus tertentu mungkin diperlukan pemasangan spool piece sebagai pengganti katup pengaman yang dilepas, atau nienggunakan bypass line untuk depressuring system. Untuk ini harus dicover dengan prosedur operasi dan penunjukan authorized personnel yang jelas. Bilamana katup pengaman harus diperbaiki ditempat atau harus dilepas untuk dikirim ke bengkel/shop guna perbaikan, safety  precaution berikut perlu diperhatikan :
1.  Katup pengaman diisolir   dengan menutup stop valve pada upstream dan down-stream. Ini harus dilaksanakan oleh orang yang sudah ditunjuk sesuai prosedure (authorized personnel).
2.  Lakukan venting terhadap fluida yang masih ada antara katup dengan block valve ke tempat/system yang aman.
3.  Bilamana tidak ada block valve didown stream dimana downstream adalah common header, bagian discharge ini harus dipasang blind agar tidak terjadi tumpahan bila ada katup pengaman lain pada header tersebut membuka.
4.  Bilamana pekerjaan perbaikan dilakukan ditempat, maka antara block valve dengan katup pengaman harus dipasang blind.
5.  Setelah perbaikan tersebut pada No. 4 selesai, blind harus dilepas kembali dan kedua block valve diatas dibuka dan diseal/dipasang pad locks (must be sealed or locked in open position).
6.  Bilamana aparat yang dilindungi tidak beroperasi maka safety precaution yang perlu hanyalah memasang blind pada down stream side, bilamana common header kemana disambungkan discharge dari katup pengaman yang diperbaiki masih dalam keadaan beroperasi.
3.3.2.   Inspeksi Katup Pengaman sebelum dibawa ke Bengkel
a.  Segera setelah katup pengaman dilepas dari system harus dilakukan visual inspection, sebab mungkin deposit atau corrosion product dapat lepas dan terbuang saat handling dan transport dari plant kebengkel. Bilamana katup pengaman tersebut sering mengalami fouling mungkin diperlukan diambil contoh deposit untuk analysa dan koreksi dimasa  mendatang.
b. Bilamana katup pengaman dilepaskan, kesempatan tersebut seyogyanya dipergunakan untuk pemeriksaan apakah ada hambatan/obstruction pada upstream dan down stream piping. Tetapi bilamana katup pengaman dilengkapi dengan block valve dan katup pengaman dilepaskan pada waktu unit sedang beroperasi, pemeriksaan semacam ini harus dilakukan pada saat apparat sedang dishut down.
c.  Harus diperhatikan agar dihindari rough handling sewaktu katup pengaman dibawa dari plant ke bengkel, sebab rough handling dapat mempengaruhi set pressure dan malah dapat menyebabkan deformasi bagian-bagian katup pengaman yang dapat menyebabkan kerusakan lebih parah.
Pressure relief valve harus dihandle similar dengan instrument yang halus sebab keakuratan fungsinya sangat penting dalam pengamanan plant operation.
3.3.3.   Pemeriksaan Katup Pengaman di Bengkel
a.  Visual Inspection:
Pemeriksaan visual harus dilaksanakan segera setelah katup pengaman sampai dibengkel. Beberapa hal berikut perlu diperhatikan bila dilakukan pembongkaran
katup pengaman :
1.  Kondisi flange dari segi pitting, kekasaran, penciutan permukaan seating dan sejenisnya.
2.  Pegas  (spring), adanya kemungkinan korosi  atau cracking, serta ketepatan akan cold differential  set pressurenya sebelum di bongkar.
3.  Pemeriksaan bellow pada balanced  bellow types. 
4.  Posisi set screw (adjusting bolt & locked nut),  serta openings pada bonnet.
5. Kemungkinan deposit/korosi atau benda-benda asing pada inlet dan outlet nozzles.
6.  Kondisi bagian luar akan kemungkinan atmospheric corrosion atau mechanical damaged ; pengecheckan apakah name plate dan tag serta segelnya baik dan sejenisnya.
7.  Pengukuran tebal dari body.
8.  Kondisi pilot dan partnya.
b.  Pre – Test (Pengujian Awal)
Sebelum katup pengaman dibongkar, perlu di check tekanan poping dari katup pengaman.
Ini bisa dilakukan dengan coba ditest stand/bend. Bilamana pada percobaan pertama katup pengaman pop pada tekanan yang benar, tidak perlu diulangi lagi pengecheckan. Tetapi apabila katup pengaman pop pada tekanan yang lebih tinggi maka perlu dipopkan sekali lagi untuk pengecheckannya karena mungkin katup tersebut lengket (stug) karena adanya corrosion deposit. Bilamana katup pengaman tidak pop pada tekanan yang dekat dengan set pressure maka mungkin katup tersebut telah salah diset pada mulanya atau set pressure telah berubah selama beroperasi.
Bilamana pop pada tekanan yang lebih rendah dari set pressure menunjukkan kemungkinan spring sudah lemah atau setting berubah selama beroperasi.
Data hasil Pres Test agar direcord pada format Pre-Test dan untuk selanjutnya laporan ditembuskan ke LK3 sebagai Koordinator Asuransi. (format Pre test PSV terlampir).
c. Setting Popping dan tightness
Setelah dismanteling, cleaning and checking semua bagian-bagian, recon-ditioning serta penggantian spare part dan katup pengaman diassembling kembali, katup pengaman kermudian ditest, diadjust serta dilakukan tightness test menurut ketentuan yang disyaratkan (secara detail akan diuraikan pada bagian "pressure test").
3.3.4.   Inspeksi Katup Pengaman dilapangan
a. Pada unit Process :
Secara umum akan lebih effektif dan lebih murah melakukan inspeksi, perbaikan dan testing di bengkel secara periodic. Tetapi katup pengaman yang bekerja pada kondisi operasi yang bersih, suhu tidak tinggi serta tekanan yang rendah, mungkin inspeksi diunit dapat dilaksanakan dengan aman dan praktis,
Bilamana block valve cukup rapat (dapat dicheck/ diverify dengan pemeriksaan bleeder antara dua stop valve), maka bonnet dari katup pengaman dapat dibuka dan dilakukan pemeriksaan dan perbaikan seperti halnya dilakukan di bengkel. Tetapi bilamana repair yang akan dilakukan besar, seyogyanya repair tersebut dilakukan di bengkel. Testing dan adJustment dapat dilakukan dengan innert gas melalui bleeder atau dengan device yang khusus.
b.  Pada Storage Tanks
Untuk storage tank relieving devices dapat berupa pressure relief valves yang harus diperlakukan sama dengan katup-katup pengaman pada process plant dan pressure vacuum relief pada atmospheric tank dimana biasanya dilakukan inspeksi pada saat tanki beroperasi.
Pressure & vacuum vents pada atmospheric storage tank didesign untuk venting vapor dan udara pada process pengisian dan pengosongan tanki. Katup pengaman disini biasanya adalah type dengan pemberat (weight-loaded).
Dalam inspeksi perlu diperhatikan apakah tidak ada pembuntuan/obstruction/ pada discharge opening. Bagian top section perlu dibuka  dan dicheck apakah pallet bebas bergerak, serta pengecheckan seat apa tidak macet atau bocor. Bilamana dilengkapi pula dengan flame arrestor pada inlet nozzle, maka perlu dicheck apakah tidak terjadi kebuntuan atau excessive fouling, sedangkan element dari flame arrestor tersebut perlu dibuka untuk dibersihkan seperlunya,
Inspeksi katup-katup pengaman tersebut pada keadaan operasi adalah sangat penting, sebab pressure & vacuum vents selalu bekerja secara terus menerus dan kemungkinan rusak akibat sticking dapat terjadi bilamana tidak sering diperiksa dan dicoba; dapat menimbulkan kerusakan yang fatal pada tangki yang dilindungi.
d.  Inspeksi katup pengaman pada Boilers
Walaupun katup pengaman pada ketel uap (Boilers) adalah sama saja dengan katup pengaman pada process equipment, tetapi pemasangannya diatur oleh undang-undang uap th 1930 atau ASME Code Section -1, Power Boiler.
Karena itu inspeksinya harus memenuhi persyaratan perundang-undangan tersebut serta memperhatikan rekomendasi dari manufacturer. Sebagaimana ASME Section-1 dan UU Uap 1930 tidak memperkenankan pemasangan block valve pada katup-katup pengamannya, maka pemeriksaan dan pengetesan/ adjustment harus dilaksanakan ditempat. Detail pengetesan akan diuraikan pada bagian "Pressure test".
c.  Inspeksi Pilot operated safety relief valves
Pemeriksaan pilot operated valve terdiri dari dua bagian yakni inspeksi dari pilotnya dan katup-nya sendiri. Pada beberapa type, pilot dapat diblock dari apparat yang diproteksi sedang katup utamanya sendiri sudah dilengkapi dengan spring loaded mechanisme dan masih tetap dapat berfungsi sebagai pengaman terhadap systemnya. Pada beberapa design diaphragma pada pilot dan katup utama (main valve) dapat diinspeksi dan diganti dimana diperlukan dengan katup utamanya tetap dalam keadaan inservice.
Pemeriksaan main valve pada jenis yang menggunakan piston perlu dilakukan karena adanya kotoran dan benda asing sering dapat menyebabkan  macetnya piston terhadap drum-nya.
Beberapa jenis perlu sering diinspeksi dan diganti diaphragmanya atau komponen lainnya dan untuk macam-macam jenis pilot operated valve tersebut seyogyanya untuk inspeksi dan repairnya, agar berpedoman pada rekomendasi dari manufacturer-nya.
d. Inspeksi terhadap Rupture Disk
Rupture disk diperlukan untuk yang berkapasitas besar dan dapat menurunkan tekanan dengan cepat.
Rupture disk harus diinspeksi secara visual dimana dilakukan checking terhadap kemungkinan bocoran pada flange, serta inspeksi pada disk-nya sendiri untuk melihat kemungkinan disk fatique atau rusak.
Disk juga harus diperiksa akan kemungkinan tertutup coke atau benda asing lainnya.
Disk harus diganti secara periodik tertentu, tergantung rekomendasi dari manufacture, aplikasi penggunaannya dan pengalaman-pengalaman sebelum-nya.
3.4. Ketentuan Tambahan Tentang Katup Pengaman
Beberapa ketentuan berikut diambil dari ASME Code yang perlu sebagai catatan dalam penggunaan katup pengaman.
a. Umum
1.  Semua bejana tekan harus dilindungi dengan katup pengaman agar terhindar dari kenaikan tekanan melebihi 10% diatas tekanan setting tertinggi dari katup pengaman yang dipasang dan tidak boleh melebihi 16% diatas MAWP (Maximum allowable working pressure) dari bejana tekan tersebut.
Untuk keperluan pencegahan terhadap kebakaran atau sumber panas dari luar yang lain maka diperlukan tambahan katup pengaman yang harus dapat melindungi bejana tekan dari kenaikan tekanan tidak melebihi 21% diatas MAWP dari bejana tekan tersebut. Pemakaian satu katup pengaman diizinkan asal semua ketentuan diatas dapat seluruhnya terpenuhi.
2.  Sebagai pengganti katup pengaman (safety valve) dapat juga digunakan rupture disk bilamana bejana tekan berisi zat yang dapat menyebabkan katup pengaman tidak dapat berfungsi baik, atau dimana ingin dihindari kehilangan karena bocoran atau kontaminasi terhadap atmosfir oleh bocoran-bocoran.
b.  Safety dan Relief Valves
1. Safety dan relief valve yang dipakai haruslah jenis spring loaded. Pilot operated valve boleh dipergunakan bilamana didesign bahwa katup pengaman utama akan terbuka secara otomatis pada tekanan tidak melebihi set pressure serta dapat merelease dengan kapasitas penuh bilamana bagian yang essential dari pilot atau auxiliary-nya rusak.
d.  Pegas  (spring) pada suatu katup pengaman dengan set pressure sampai dengan 250 psi tidak diperbolehkan untuk reset pada tekanan melebihi 10% diatas dan dibawah dari tekanan setting yang terdapat pada name plate-nya. Untuk katup pengaman dengan tekanan setting diatas 250 psi, spring tidak boleh direset pada tekanan melebini 5% diatas dan dibawah tekanan setting yang tertera pada nameplate-nya.
c.  Rupture Disk
Setiap rupture disk harus mempunyai bursting pressure yang dispecify pada suhu yang ditentukan serta dicetak dengan jelas. Specified bursting pressure pada specified temperature tersebut harus dapat jaminan dari maufacturer-nya akan pecah pada range 5% (plus atau minus) dari specified bursting pressure.
d. Setting dari katup pengaman
1.  Bilamana digunakan satu saja katup pengaman (single pressure-relieving device), katup pengaman tersebut harus diset untuk bekerja pada tekanan tidak melebihi MAWP (tekanan maximal yang diizinkan) dari bejana tekan. Bilamana karena keperluan kapasitas diperlukan lebih dari satu buah katup pengaman, maka hanya satu katup pengaman yang perlu diset pada tekanan yang sama atau lebih rendah dari tekanan maximal yang diizinkan, sedang katup pengaman lainnya dapat diset untuk membuka pada tekanan yang lebih tinggi, tetapi tidak boleh melebihi 105% dari MAWP, terkecuali untuk katup pengaman sebagai pelindung terhadap kebakaran atau sumber panas dari luar lainnya diperbolehkan untuk diset pada tekanan yang lebih tinggi, tetapi tidak diperbolehkan melebihi 110% dari MAWP-nya.
Catatan :
Yang dimaksud dengan MAWP (maximum allowable working pressure) adalah tekanan maximal yang diperbolehkan pada bagian fceratas dari bejana pada suhu kerja yang ditentukan yang dihitung berdasarkan tebal nominal dari setiap element tanpa corrosion allowance.
Tetapi sebagai basis penentuan set pressure dari katup pengaman yang digunakan sebagai MAWP adalah design pressure, karena harga actual Maximum Allowable Working Pressure pada design dan fabrikasi bejana tekan secara jurisdiction tidak perlu dihitung (Reference ASME Section VIII Division-1 Appendix 3 (Mandatory Appendix, Definition) July, 1999.
2.  Bilamana kondisi operasi dari katup pengaman berubah sehingga diperlukan penggantian spring untuk perubahan settingnya maka katup pengaman tersebut harus diadjust oleh Manufacturer-nya atau oleh orang yang sudah disertifikasi oleh Manufacturer serta dilakukan perubahan pada name plate-nya oleh Manufacturer.
3. Tekanan setting dari katup pengaman harus sudah memperhitungkan pengaruh static head serta constant backpressure.
4.  Toleransi terhadap set pressure (plus atau minus) pada semua katup pengaman harus tidak melebihi 2 psi untuk tekanan sampai dengan 70 psi dan tidak melebihi 3% dari set pressure untuk tekanan diatas 70 psi.
e.  Pemasangan Block Valve (stop valve)
1.  Stop Valve antara Pressure Vessel dengan Katup Pengaman
- U.U. Uap 1930 maupun ASME Code section (Power Boilers) tidak memperbolehkan pemasangan block valve diantara vessel dengan katup pengaman.
- Untuk unfired pressure vessel (ASME Section VIII): pemasangan full-area stop valve diizinkan untuk keperluan inspeksi dan perbaikan dari katup pengamannya saja. Katup pengaman tersebut harus diatur untuk dapat diseal atau dilock pada posisi terbuka (dipasang pad lock) dan pengoperasian dari block valve tersebut harus ditentukan dengan prosedur yang jelas dan tertulis.
2.  Stop Valve antara katup pengaman dengan Common Header
Seperti halnya pada item I, ASME Section VIII memperbolehkan pemasangan stop valve antara dari katup pengaman dengan header, dimana pengoperasiannya juga harus diatur dengan prosedure yang jelas dan tertulis. Stop valve ini tidak boleh ditutup pada waktu bejana -tekan sedang beroperasi sebelum stop valve yang dibagian inlet dari katup pengaman ditutup terlebih dahulu.
Untuk lebih jelas kedua aturan diatas dapat dilihat dari ASME Section VIII Division I, Appendix M, ASME Section VIII Division-1, Pressure Vessel, Part M5 dan M6, 1 Juli 1998.
4.  REPAIR PROCEDURE
Kerusakan yang terjadi pada katup pengaman (safety relief devices) yang umum adalah kerusakan pada bagian-bagian (parts), terutama bagian-bagian yang bergerak (moving parts) karena korosi, wear atau kerusakan-kerusakan mekanis yang lain. Kerusakan pada stationary parts seperti body, bonnet beserta flangenya dapat juga terjadi tetapi tidak sesering dan secepat pada moving parts.
Karena itu penyediaan spare parts untuk repair sangat diperlukan. Spare parts yang harus selalu tersedia adalah: Spring, gasket, disc, nozzle, spindle, bolt, bellows, diaphragma, o-ring, pilot kits, rings.
Juga bahan-bahan repair (supplies) untuk perbaikan seat sangat diperlukan antara lain: Lapping & grinding equipment, lapping compound dan sejenisnya.
Beberapa tips berikut dianjurkan untuk melakukan repair pada katup pengaman:
4.1. Pembongkaran (Dismanteling) Katup Pengaman
Bagian-bagian katup harus diperiksa visual, untuk melihat kerusakan akibat korosi atau aus (wear): stem (spindle), guide, disc, nozzle, juga bellow pada balance type valve harus diperiksa dari kemungkin crack atau kerusakan lainnya.
4.2. Pembersihan Dan Checking Bagian-Bagian Katup Pengaman
Semua bagian-bagian dari katup pengaman setelah dibongkar harus dipisahkan antara satu katup dan katup lainnya dan diberi tanda-tanda atau tag agar jangan tercampur. Pada waktu itu bagian-bagian tersebut harus dibersihkan sebaik-baiknya dan diinspeksi seperlunya.
Bagian-bagian yang perlu dicheck dengan teliti serta harus dibersihkan adalah nozzle, disk, dan nozzle harus dicheck dari segi roughness, flatness. Kekuatan spring (kalau ada tersedia alatnya) perlu dicheck (ditest). Begitu juga spring dicheck kemungkinan crack/ deformasi.
Juga fitness antara disc dengan disc holder (disc guide) perlu diperiksa clearence serta kemungkinan scoring agar nanti tidak menyebabkan macet (stug); nozzle harus dicheck apakah tidak ada yang mengganjal atau kemungkinan deformasi (warpage). Bellows harus dicheck akan kemungkinan bocor, crack, penipisan setempat dan kondisi secara umum.
4.3. Penggantian Bagian-Bagian Yang Rusak Dan Recondition
Bagian (parts) dari katup pengaman yang aus/rusak (warn out atau damaged) harus diganti atau direcondition. Tetapi bagian seperti spring dan bellows harus diganti baru dan tidak boleh diperbaiki.
Bagian seating pada nozzle dan disc bilamana kedapatan cacat kecil atau aus dapat recondation dengan dipotong (machining) dan atau dilapping.
Kerusakan pada body dan bonnet bilamana terjadi dapat diperbaiki atau direcondition seperti perbaikan pada pressure containing parts yang sejenis.
4.4. Reassembling Katup Pengaman
Setelah semua bagian diinspeksi dan direconditioned, maka katup pengaman harus diassembling kembali dan distell (diadjust) menurut prosedure yang diberikan manufacturernya untuk penyetelan semua bagian-bagiannya. Pada reassembling ini yang harus diperhatikan adalah penyetelan-penyetelan clearence. Juga penyetelan spring setting dan blowdown seyogyanya mengikuti petunjuk dari manufacturer, mungkin actual blowdown tidak dapat distel secara akurat pada bangku testing (test bench), maka penyetelan blowdown ring harus mengikuti rekomendasi dari manufacturernya.
4.5. Perbaikan Pilot Operated Safety Valve
a.  Disassembling
1.  Lepaskan pilot dan bongkar (disassembly) menurut manufacturer instruction manual.
2.  Bongkar katup utama  (main valve). Bilamana dilengkapi dengan lift adjustment, usahakan jangan merubah lift,
3.  Lepaskan nozzle bila diperlukan
b.  Cleaning
1.  Bersihkan semua bagian pilot bilamana perlu dengan solvent dan sand paper yang halus (500 grit paper).
2.  Bersihkan seperlunya, usahakan jangan sampai merusak kehalusan permukaan.
c.  Inspeksi
1.  Pilot
- Periksa spring terhadap kemungkinan korosi crack dan sejenisnya.
- Periksa semua bagian lainnya dan ganti parts yang rusak. Goresan dan cacat-cacat kecil dapat dicoba dibersihkan dengan polishing.
- Ganti bagian-bagian yang lunak (soft goods).
2.  Main Valve
- Periksa perroukaan seating pada nozzle. Goresan kecil dapat direpair dengan lapping atau machining.
- Periksa piston dan liner (atau bagian-bagian yang bergerak yang lain) akan kemungkinan korosi mengelupas (galling). Piston harus dapat bergerak bebas terhadap linernya.
- Ganti semua bagian lunak (soft goods) dan discnya dilapping seperlunya.
5.  PRESSURE TEST
Katup pengaman harus dapat bekerja seakurat mungkin agar dapat benar-benar menjamin proteksi terhadap aparat yang dilindungi agar dihindari overpressure dan juga jangan sampai bocor pada tekanan jauh dibawah set pressure.
Untuk itu sebelum dipasang atau dioperasikan katup pengaman harus ditest dan diadjust seakurat mungkin.
Katup pengaman yang digunakan untuk steam service harus ditest dengan steam, sedang katup yang dipergunakan untuk udara atau gas harus ditest dengan udara atau gas.
Pengetesan dapat dilakukan dibengkel (bila mana tersedia test bench serta katup pengaman dapat dilepaskan dari tempatnya). Pada kasus tertentu katup pengaman harus ditest ditempat.                             
5.1.    Shop Testing
Testing dishop biasanya menggunakan test bench yang dapat dilengkapi dengan fa-silitas test dengan udara, air atau nitrogen. Test bench sebenarnya tidak sepenuhnya dapat menggantikan testing dilapangan, karena jumlah gas yang dapat dipakai terbatas sehingga tidak mungkin untuk mengukur besarnya kapasitas dan blowdown. Tetapi shop test bench cukup dapat diandalkan untuk mengukur tekanan kapan katup pengaman akan terbuka serta dapat digunakan untuk menentukan tighness dari katup pengaman.
5.1.1. Pengetesan dengan udara/nitrogen
Udara/nitrogen digunakan untuk medium testing sebab udara cukup aman dan murah dan nitrogen cukup aman. Udara/nitrogen mempunyai sifat compressible dan menyebabkan katup pengaman bereaksi ditest bench dengan pop action yang sangat mendekati kondisi operasi dari katup pengaman dilapangan yang menghadle hydrocarbon atau gas yang lain.
Pengetesan dengan udara/nitrogen dilakukan untuk pop test dan leak test dari safety, relief dan Safety Relief Valves.
5.1.2. Pengetesan dengan air (khusus untuk liquid service)
Air dapat digunakan sebab murah, aman dan dapat digunakan sebagai sirkulasi untuk kondisi operasi. Pengetesan dengan air hanya untuk menentukan test pressure saja, sedangkan leak test/tighness test harus menggunakan test dengan udara/gas, sebab bocoran kecil tidak dapat langsung dideteksi dengan air.
5.1.3. Penentuan setting dan bocoran
a.  Untuk penyetelan spring setting (penentuan set pressure) dan blowdown (ring setting) harus mengikuti rekomendasi dari Manufacture-nya.
Setelah dilakukan penyetelan (adjustment), Katup pengaman harus dipressure test (pop test) paling sedikit 1 (satu) kali. Pengetesan dengan udara atau dengan air untuk final poping harus berada pada range ± ½ % dari cold set pressure yang diperlukan (within ± ½% accuracy of the required cold differenttial pressure).
Harga cold differential pressure ditentukan sebagai berikut:
1. Untuk conventional valve
Cold differential pressure = seselisih antara set pressure dan superimposed back pressure ditambah koreksi terhadap suhu (plus manufacturer’s recommended temperature correction).
2. Untuk Balance bellows type valve
Cold differential pressure = set pressure ditambah dengan koreksi terhadap suhu.
b.  Untuk metal-to-metal seats commercial safety relief valve disyaratkan tightnessnya dan karena itu perlu ditest bersamaan dengan pop testing.
Daftar berikut adalah ketentuan leakage rate dari API Standard 527 untuk safety relief valve dengan tekanan sampai dengan 6000 psi pada suhu 60°F.
5.2.   Field Testing
Untuk katup pengaman yang tidak dapat dilepaskan, pengetesan harus dilakukan ditempat, dengan jalan menaikkan tekanan operasinya secara perlahan-lahan dan dilakukan pop testing. Blowdown adjustment, juga dapat dilaksanakan pada field testing ini.
Untuk mengurangi hazard kepada peralatan yang dilindungi, dianjurkan untuk menggunakan testing device, dimana preliminary testing dapat dilakukan dengan tanpa menaikkan tekanan operasi, tetapi dengan jalan memberikan pembebanan tambahan- pada spring. Setelah selesai adjustment actual poping dengan menaikkan tekanan operasi system untuk final verification tetap perlu dilakukan.
Operasional test pada safety valve yang dilengkapi dengan try lever bilamana perlu juga dapat dilakukan. Checking tersebut  hanya boleh dilaksanakan bilamana tekanan ope-
rasi paling sedikit adalah 70% dari set pressure-nya dan outlet dari katup pengaman tersebut tersalur ketempat yang aman.
6.  DOKUMENTASI
Katup pengaman harus dilengkapi dengan dokumentasi serta mendapatkan izin penggunaan dari yang berwenang.
Harus diusahakan agar izin penggunaan tersebut tidak kedaluwarsa.
Katup pengaman baru harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen berikut:
- Data Sheet/Specification sheet.
- Manufacturer drawing & spare parts list.
- Material dan test certificate dari manufacturer.
- Piping dan Instrumentation Diagram (P&ID ) yang menyatakan ketentuan-ketentuan process.
- Izin penggunaan dari instansi yang berwenang.
Untuk katup-katup pengaman yang sudah dipergunakan selain dokumen-dokumen tersebut diatas masih diperlukan records dari perbaikan-perbaikan, hasil inspeksi, kerusakan-kerusakandan sebagainya.
History record harus mencerminkan informasi-informasi yang perlu dan mudah dilihat guna keperluan pemeliharaan katup pengaman tersebut antara lain :
- Hasil pemeriksaan, kerusakan-kerusakan parts dan penggantian-penggantiannya.
- Kronologis pemeriksaan dan pengetesan dan interval pemeriksaan
Contoh-contoh history record untuk spring loaded, weight loaded dan pressure vacuum valve terlampir dapat dipergunakan sebagai Standard form.
Dokumentasi history record .dan informasi-informasi tersebut diatas harus selalu dijaga agar up to date dan siap pakai.


SPECIFICATION RECORD FOR A PRESSURE RELIEVING DEVICE
Device No.
Unit
Location
Set Pressure
Test Interval
Make _________ Style ______________
Remarks _____________________________
Body and bonnet material ____________
 ____________________________________
Nozzle and disk material _____________
 ____________________________________
Trim material ______________________
 ____________________________________
Spring material   Ο Carbon Steel  Ο Alloy
 ____________________________________
Spring No. ________________________
 ____________________________________
Flange Sizes
 ____________________________________
     Inlet ___________ Outlet __________
 ____________________________________
Orifice ____________ Back preesure ___
 ____________________________________
Spring Set Pressure _________________
 ____________________________________
Relieving Pressure __________________
 ____________________________________
Normal Operating Temperature ________
 ____________________________________



HISTORICAL RECORD FOR A PRESSURE RELIEVING DEVICE
Device No.
Unit
Location
Set Pressure
Test Interval
Date tested
Popped
Roset
Disposition
Condition
Repairs
Remarks



TESTING REPORT FOR A PRESSURE RELIEVING DEVICE
Fill this report for each device tested and send this report to the quality assurance group.
Date Tested ___________________________
Type
Device No. ____________________________
    Make  ______________________________
Unit __________________________________
    Style _______________________________
Location ______________________________
Material _______________________________
Size  _________________________________
Specification ___________________________
   Inlet ________________________________
    Body
   Orifice  ______________________________
   
   Outlet  ______________________________
FILL IN BLANKS BELOW ONONE SIDE ONLY
From Unit
From spre stock or heckk of new device
Date last bench tested ___________________
Set Pressure __________________________
Popped at _____________________________
Check Pressure ________________________
Set Pressure  __________________________
Check (dirty pop) pressure ________________
If set pressure changed;
    New Set Pressure ____________________
Test Used
    Standard ___________________________
    Dry Seal  ___________________________
 Disposition
     To Unit _____________________________
     To Spare ___________________________
     To Junk ____________________________
Condition
     Leaking ____________________________
     Stuck   _____________________________
     Fouled _____________________________
     Corroded ___________________________
Tested by _____________________________
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut